Sepi
Malam itu begitu dingin, angin bertiup sangat kencang, dan hujan pun mulai turun dengan derasnya. Pada saat-saat seperti itu Angelina malah harus duduk diam di mobilnya yang melaju sangat kencang sekali di jalan yang sepi dan penuh dengan genangan air yang semakin bertambah tingginya. Ia harus duduk di mobil sedan miliknya untuk mengantar ibu tirinya yang akan segera melahirkan itu ke rumah sakit terdekat. Ia sendiri tidak begitu senang dengan ibu tirinya itu.
Keadaan di dalam mobil juga tidak begitu baik untuknya, ayahnya duduk di depan setir untuk mengemudikan mobil dengan kecepatan yang cepat, ibu tirinya yang duduk di samping ayahnya selalu saja merintih kesakitan dari tadi dan hal tersebut membuatnya kesal, lalu kakak tirinya yang bukan berasal dari ayahnya duduk di bangku belakang sebelah kanan dengan perasaan tidak terlalu cemas pada ibunya, sedangkan Angelina sendiri duduk di sebelah kiri kakak tirinya itu sambil termenung dengan pandangan mengarah ke luar jendela mobil. Lalu lama-kelamaan Angelina mulai menyadari kalau banyak yang terjadi di luar sana. Dalam setengah perjalanan menuju ke rumah sakit ia melihat cukup banyak pejalan kaki yang kesal dan memaki-maki mobilnya yang melaju di jalan bergenangan air itu dengan sangat cepat. “Pasti mereka kecipratan air!” pikirnya. Lalu ada juga yang terlihat sedang berteduh di halte bis, ada pula yang tetap memaksakan dirinya untuk terus melaju di tengah hujan deras baik dengan sepeda maupun dengan sepeda motor, tapi yang jelas semuanya nampak tidak menyenangkan baginya yang masih berusia 7 tahun kecuali lampu-lampu jalanan yang nampak begitu cantik di bawah berkas titik-titik air hujan yang berjatuhan.
Sesampainya di rumah sakit ibu tirinya langsung dibawa ke ruangan untuk melahirkan. Sementara ayah dan ibu tirinya masuk ke dalam ruangan itu, Angelina dan Ronald, kakak tirinya yang usianya 2 tahun lebih tua darinya ; duduk menunggu tanpa perasaan apa-apa di bangku tunggu yang ada di depan ruangan tersebut. Mereka berdua tampaknya sama sekali tidak mencoba untuk membuka suatu pembicaraan, mereka berdua benar-benar membisu satu sama lain. Akhirnya setelah lama waktu berjalan, yang ditunggu-tunggu keluar juga. Ayah Angelina keluar sambil menggendong seorang bayi dan lalu ia berseru, “Anak laki-laki yang tampan seperti ayahnya!”.
Kini sudah 3 tahun berlalu sejak kelahiran adik tirinya dan kini Angelina sudah berusia 10 tahun. Sejak kedatangan keluarga baru di rumahnya Angelina sudah menduga bahwa ia akan semakin tidak betah untuk tinggal di rumahnya sendiri. Dan benar saja, sekarang kelakuannya makin tidak karuan, walau ia baru duduk di kelas 5 SD namun kelakuannya sudah sangat buruk. Di sekolahnya ia sering mendapat keluhan dari guru-gurunya juga dari teman-temannya, lalu ia juga jarang ada di rumah mungkin juga dikarenakan ia kurang mendapat perhatian di rumahnya. Maklumlah, ayahnya bekerja dari pagi hingga malam sekali dan ibu tirinya masih terlalu sibuk untuk mengurusi anak balitanya itu, sedangkan kakak tirinya yang sudah duduk di kelas 1 SMP lebih senang bercanda-ria dengan teman-temannya di telepon. Ia nampak begitu kesepian dan sedih sekali.
Masa kanak-kanaknya selama di SD ia lewatkan begitu saja tanpa sebuah kenangan indah satupun. Waktu pun berjalan terus tanpa memperdulikan apa kesedihan para manusianya yang selalu mengikutinya berputar dari detik ke detik. Tak terasa Angelina sudah memasuki masa-masa terindahnya seorang remaja, SMU! Namun peristiwa yang dulu menghinggapinya sewaktu di SD masih terus setia mendampinginya, bahkan semakin buruk. Setiap kali ada temannya yang mau mengajaknya untuk mengobrol, ia selalu menghindar. Akhirnya teman-temannya pun sudah cukup lelah untuk membantunya dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekelilinginya, begitu pula halnya dengan para gurunya yang sudah angkat tangan untuk membantunya. Maka kejadian yang dulu pun berulang lagi, ia mulai dijauhi teman-temannya dan ia sendiri tidak pernah mau mencoba untuk berucap kata-kata. Sedangkan di rumahnya sendiri masih tidak ada perubahan, malah lebih buruk, tidak ada yang memperhatikannya. Ia bukannya bisu, tapi karena menurutnya walau bicara tak akan ada artinya ; misalnya waktu ia menanyakan kepada ayahnya dapatkah ayahnya itu untuk meluangkan waktu satu jam saja untuk menemaninya. Lalu ayahnya menjawab, “Angel-ku sayang, bukannya ayah tidak mau menemanimu, tapi karena ayah sangat sibuk sekali dengan pekerjaan ayah. Ini semua ayah lakukan untuk menghidupi keluarga ini, juga untuk dirimu.”
Tak lama setelah ia memasuki masa kuliahnya, ia mulai sakit-sakitan. Banyak orang yang mengkhawatirkannya, termasuk ibu tirinya, namun ia masih tetap pada pendiriannya yang sempit bahwa tak ada satupun orang di dunia ini yang memperhatikannya. Akhirnya pada saat usianya genap 20 tahun, Angelina harus menerima malang yang tak bisa ditolaknya. Hingga akhir hayatnya wajahnya pun masih tampak SEPI !
(made in 2002, gila nich cerita bener2 deh... ada kemiripan gak sama cerita : Kado Spesial di Hari Spesial ??? Saya bikin nih 2 cerita dalam 1 hari yang sama, padahal hari itu lagi gak sendu...)

0 Comments:
Post a Comment
<< Home